Pragmatisme: saat kamu memilih yang berhasil, bukan yang terdengar bagus
Pragmatisme adalah dorongan ke arah hasil. Saat prinsip dan hasil nyata bertabrakan, kamu bertanya mana yang benar-benar membantu. Kamu memilih pertarunganmu, tetap bekerja sambil proyek sampingan tumbuh, memberi versi yang lebih halus di kencan pertama. Di SENEKA, orang yang pilihannya paling sering condong ke sini biasanya mendapat arketipe Sang Realis. Kamu menjaga semuanya tetap membumi saat orang lain terbawa suasana. Risikonya, kamu terlalu gampang menukar prinsip dengan kenyamanan.
Seperti apa wujudnya
- Kamu biarkan tukang cukur menyelesaikannya karena, jujur saja, rambut akan tumbuh lagi.
- Kamu pindah ke ruang rapat lain daripada ribut soal siapa yang sudah pesan.
- Kamu pertahankan penghasilan yang aman sambil mencoba ide yang berisiko.
Lawan tarikannya
Dalam dilema SENEKA, Pragmatisme paling sering berbenturan dengan Ketegasan. Membiarkan sesuatu karena tidak sepadan dengan keributannya, dan bicara karena hal itu penting, sama-sama masuk akal, dan kamu harus memutuskan mana yang pantas untuk momen itu.
Dilema yang mengukur Pragmatisme
Kencanmu bertanya kenapa hubungan terakhirmu berakhir. Jawaban jujurnya tidak membuatmu terlihat baik.
Rekan kerja yang tak kamu sukai disalahkan atas sesuatu yang kamu tahu bukan salahnya.
Perekrut mengirimimu pesan soal pekerjaan impianmu. Teman kerja terdekatmu juga cocok sekali, dan sedang cari kerja.
Mesin ATM mengeluarkan uang 200 lebih banyak. Salah banknya, dan tak akan ada yang bertanya.
Proyek sampinganmu baru menghasilkan uang sungguhan. Kerja penuh waktu memberinya peluang. Tapi menguras tabunganmu.
Temanmu butuh uang cepat dan menawarkan mobilnya jauh di bawah harga pantas.
Unduh aplikasinya
Gratis diunduh